Artikel
Analisis Usaha Budidaya Tanaman Porang
Oleh: Gugie Nugraha – Penyuluh Kehutanan BDLHK Kadipaten
Tanaman yang satu ini sekarang telah menjadi tanaman yang banyak dicari oleh industri makanan khususnya yang bergerak di bidang industri hidrocolloid, dulu tanaman ini dianggap sebgai tanaman yang tidak ada gunanya, tumbuh di kebun bahkan di Jawa khususnya Jawa Tengah tanaman ini disebut sebagai tanaman makanan ular. Saat ini ceritanya lain, porang banyak dicari dan dibudidayakan karena mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Hasil olahan Porang (iles-iles) adalah tepung konjac yang sangat berguna untuk beberapa industri di antranya industri pembuatan jelly, kulit kapsul, perekat dalam pembuatan kertas dan lain-lain.
Berikut berdasarkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Porang Indonesia,
PERTUMBUHAN DAN MASA PANEN TANAMAN PORANG:
Tanaman porang dapat dipanen untuk pertama kali setelah umur tanaman mencapai 3 tahun. Setelah itu, tanaman dapat dipanen setahun sekali tanpa harus menanam kembali umbinya.
Þ Tanaman porang hanya mengalami pertumbuhan selama 5 – 6 bulan tiap tahunnya (pada musim penghujan). Di luar masa itu, tanaman mengalami masa istirahat /dorman dan daunnya akan layu sehingga tampak seolah-olah mati.
Þ Waktu panen tanaman porang dilakukan pada bulan April – Juli (masa dorma).
Umbi yang dipanen adalah umbi besar yang beratnya lebih dari 2 kg/umbi, sedangkan umbi yang masih kecil ditinggalkan untuk dipanen pada tahun berikutnya.
Kabupaten Majalengka sendiri dapat dipasok bibitnya dari Kabupaten Cirebon yang telah lebih dahulu melakukan budidaya porang. Adapun rincian analisis biayanya adalah sebagai berikut:
Analisis Biaya Tiga Tahun Pertama Per Hektar:
- Kegiatan persiapan lahan secara borongan Rp 1.500.000/Ha
- Pembelian 10.000 bibit porang untuk jarak tanaman 1 x 1 m dengan harga RP 300/bibit ~> Total Rp 3.000.000; Ongkos kirim Rp 50.000/rit
- Penanaman secara boronngan dibutuhkan Rp 700.000/Ha
- Biaya perawatan & pemupukan tahun pertama Rp 400.000
- Biaya perawatan & pemupukan tahun kedua Rp 400.000
- Biaya perawatan & pemupukan tahun ketiga Rp 400.000
| No | Kegiatan | Satuan Biaya | Biaya per Satuan | Jumlah Biaya |
| 1 | Persiapan lahan | Borongan (15 HOK) | 100.000 | 1.500.000 |
| 2 | Bibit porang (Jarak tanam 1 x 1 m) | 10.000 | 300 | 3000.000 |
| 3 | Ongkos kirim | 1 rit | 50.000 | 50.000 |
| 4 | Penanaman 10.000 bibit | Borongan (7 HOK) | 700.000 | 700.000 |
| 5 | Perawatan dan Pemupukan (Tahun I) | Borongan | 400.000 | 400.000 |
| 6 | Perawatan dan Pemupukan (Tahun II) | Borongan | 400.000 | 400.000 |
| 7 | Perawatan dan Pemupukan (Tahun I) | Borongan | 400.000 | 400.000 |
| Total | 6.450.000 | |||
Tabel 1. Analisis Biaya Tanan porang tahun pertama
Untuk pembudidayaannya tentu di setiap tempat memiliki nilai biaya yang agak berbeda. Faktor yang mempengaruhi perbedaan ini adalah karena jarak pabrik pengolahan dengan lokasi penanaman yang berbeda-beda, karena jarak pembelian bibit porang yang berbeda-beda pula.
Pendapatan yang diperoleh setelah tiga tahun:
- Minimal bobot porang: 2 kg/batang
- Total bobot panen porang:
10.000 batang x 3 kg x 70%
= 25.000 kg x 70% = 21.000 kg
- Harga porang Rp 2.500/kg (Franco Pembeli)
- Total pendapatan kotor di akhir tahun ketiga (panen pertama):
Rp 2.500 x 21.000 kg = Rp 52.500.000
- Pendapatan bersih panen pertama:
Rp 52.500.000 — Rp 6.450.000 = Rp 46.050.000
- Penerimaan tiap tahun di tahun keempat dan seterusnya:
Rp 52.500.000 — Rp 400.000 = Rp 52.100.000
Ada 5 industri yang mengolah porang menjadi chip atau keripik porang dan tepung porang. Diantaranya CV. Agro Alam Raya, PT ALGALINDO, PT AMBIKO dll. Kebutuhan ke- 5 industri porang tersebut diperkirakan sekitar 4.400 ton chip/tahun. (https://simonbwidjanarko.wordpress.com 2009)
Selain industri tersebut juga ada industri BUMN, yaitu Pabrik Penepungan Porang di Pare-Kediri (di bawah Kesatuan Bisnis Mandiri Agroforestry milik Perum Perhutani Unit II Jawa Timur) dengan kapasitas 15 ton umbi porang per hari.
Daftar Pustaka:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Porang Indonesia. 2013. Modul Diseminasi—Budidaya dan Pengembangan Porang sebagai Salah Satu Potensi Bahan Baku Lokal.Malang: Universitas Brawijaya
| Abdul Rokim | |
|---|---|
|
16 Juni 2021 05:19:07 Terimakasih atas informasinya, kebetulan kami juga mau berusaha menanam porang. maaf lain waktu mungkin kami perlu bimbingan lebih lanjut |
|
| Joy | |
|---|---|
|
29 Juni 2021 05:32:01 Salam kenal dan bimbingan baru taraf tertarik budiday |
|
Penerapan Sistem Informasi pada Pengelolaan Sampah Warga Desa Cangkingan
Peringati Hari Kartini Pemdes Cangkingan bersama Revolusi adakan Donor Darah
Hilal Tak Penuhi Kriteria , 1 Syawal 1446 H Jatuh 31 Maret
Pemutihan Pajak Kendaraan Tunggakan dan Denda dihapus
Waspada Banjir Puncak Musim Hujan diprediksi sampai Februari
Kader Posyandu Cangkingan Siap Lawan Stunting dengan Ilmu Baru
HAMA TIKUS PUNYA SIKLUS HIDUP, PETANI WAJIB TAHU
Teknik Pemupukan Tanaman Padi Yang Tidak Semua Orang Tahu
Cara Membuat Nata De Coco dari Air Kelapa
Cara Membuat Sari Buah Mangga Segar dan Nikmat
Pelayanan Disdukcapil Kabupaten Indramayu 25-26 Maret 2021 Melalui WA
Padi Hidroganik, Budidaya Padi Tanpa Tanah Pertama di Indonesia
Zona Kuning, Indramayu Perpanjang PSBB
Yuk segera daftar menjadi TAMTAMA Prajurit Karier, Gratis!
Gotong Royong Tombak Pembangunan Desa Cangkingan
Pertama! Bazar Ramadhan di Desa Cangkingan
Pemerintah Desa Cangkingan Juara Ke-2 Mengikuti Lomba Arsip Tingkat Kabupaten Indramayu
Presiden Jokowi Ajak Seluruh Elemen untuk Melawan Pandemi Covid-19
Ayo Ikuti Program JA-KET (KEJAR PAKET) GRATIS!!
Kuwu Cangkingan Jadi Nara Sumber Manfaat Desa Digital di Forum T20